Scalper trading di timeframe rendah, seperti grafik 1 menit atau order book itu sendiri, dan menargetkan pergerakan sepersekian persen. Karena setiap profit kecil, biaya menjadi dominan: biaya trading, spread, dan slippage bisa menentukan apakah strateginya profit. Scalper memilih pasar yang paling likuid dan sering memakai limit order untuk membayar biaya maker.
Contoh
Seorang scalper menargetkan 0,25% per trade di BTC dengan stop 0,15%, sekitar 1,7R, dan win rate impas 37,5%. Dengan market order 0,05% saat entry dan exit, biaya memakan 0,1% per round trip: reward net menjadi 0,15% dan risiko net 0,25%, jadi rasio sebenarnya turun ke 0,6R dan win rate impas naik ke 62,5%.
Mengapa penting
Scalping memberi banyak trade dan umpan balik yang cepat, tetapi edge yang kecil itu rapuh. Memahami struktur biaya adalah pembeda antara strategi scalping yang berhasil di atas kertas dan yang berhasil setelah biaya.
Kesalahan umum
Scalping dengan biaya taker dan berharap angka gross-nya tetap bertahan. Nilai statistik strategi setelah dikurangi semua biaya, dan pertimbangkan entry maker-only atau tier biaya yang lebih baik sebelum memperbesar ukuran.
Terapkan dalam praktik
Pertanyaan umum
- Apakah scalping menguntungkan?
- Bisa, tetapi edge per trade-nya kecil, jadi biaya, eksekusi, dan disiplin lebih penting daripada di gaya yang lebih lambat. Banyak scalper kalah terutama karena biaya.
- Timeframe apa yang dipakai scalper?
- Biasanya grafik 1 menit hingga 5 menit, sering disertai membaca order book dan tape. Posisi jarang bertahan lebih dari beberapa menit.
- Pasar mana yang terbaik untuk scalping?
- Yang paling likuid, seperti perpetual BTC dan ETH di exchange besar, tempat spread sempit dan slippage rendah.